-->

Ads (728x90)

Panas Demo Anti Trump 'No Kings' di Berbagai Kota AS
Foto: Demo No Kings untuk memprotes Donald Trump di AS (AFP/GIORGIO VIERA)


Editor By : Ikhsan

JAKARTA, Peristiwanusantara.com - 
Sejumlah kota di Amerika Serikat (AS) menggelar aksi demonstrasi. Demo bertajuk 'No Kings' ini menentang kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dianggap otoriter.

Dilansir AFP, Aksi demonstrasi berlangsung Minggu (29/3/2026) waktu setempat. Penyelenggara mengatakan setidaknya 8 juta orang berkumpul di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian dari kota-kota besar hingga kota-kota kecil.

Ini adalah kali ketiga dalam kurang dari setahun warga Amerika turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut 'No Kings', saluran oposisi yang paling vokal dan visual terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025. Di New York, kota terpadat di Amerika, puluhan ribu demonstran berkumpul, termasuk aktor peraih Oscar Robert De Niro, seorang kritikus Trump yang sering menyebut presiden Trump ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita.

Aksi protes berlangsung dari Atlanta hingga San Diego. Mereka merasa konstitusi terancam.

"Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat," kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP di Atlanta, tempat ribuan orang turun ke jalan.

"Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan tidak baik," ucapnya.

Di kota West Bloomfield, Michigan, dekat Detroit, orang-orang menantang suhu di bawah titik beku untuk berdemonstrasi. Dan di ibu kota AS, Washington, ribuan demonstran beberapa membawa spanduk bertuliskan "Trump Harus Mundur Sekarang!" dan "Lawan Fasisme" berbondong-bondong ke National Mall.

"Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini situasi yang mengerikan yang kita alami," kata seorang pensiunan berusia 67 tahun, Robert Pavosevich kepada AFP.

Suasana anti-Trump telah meluas hingga ke luar perbatasan AS, dengan demonstrasi pada hari Sabtu di kota-kota Eropa termasuk Amsterdam, Madrid, dan Roma, di mana 20 ribu orang berbaris di bawah pengawasan ketat polisi.

Seperti diketahui, hari protes nasional "No Kings" pertama terjadi Juni lalu pada ulang tahun Trump yang ke-79 dan bertepatan dengan parade militer yang ia selenggarakan di Washington. Beberapa juta orang turun ke jalan, dari New York hingga San Francisco.

Protes kedua, pada bulan Oktober, menarik sekitar tujuh juta demonstran. Menurut penyelenggara, acara hari Sabtu lalu diikuti oleh satu juta peserta lagi dan 600 demonstrasi tambahan.

Ricuh Pendukung Trump dengan Massa Demo 'No Kings'

Sekitar 50 orang pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terlibat adu mulut dengan para demonstran 'No Kings' di West Palm Beach, Florida. Polisi kemudian mencoba memisahkan massa.

Dilansir CNN dan AFP, Minggu (29/3/2026), para demonstran 'No Kings' memprotes perang, kenaikan harga makanan dan bensin, serta isu-isu lainnya di berbagai wilayah AS. Saat demonstrasi masih berlangsung, pendukung Trump mendadak muncul dan berdebat dengan para demonstran.

Beberapa datang dengan megafon untuk menyiarkan pesan pro-Trump. Beberapa pendukung lain datang dengan mikrofon dan mengibarkan topi, kaos, dan bendera 'Proud Boys'. Petugas polisi terlihat meredakan situasi.

Kerumunan besar demonstran telah berkumpul di berbagai wilayah AS pada Sabtu (28/3) waktu setempat untuk menentang Trump. Mereka melampiaskan kemarahan atas apa yang mereka anggap sebagai gaya pemerintahan otoriter, kebijakan imigrasi garis keras Trump, dan perang dengan Iran.

Penyelenggara mengatakan 'setidaknya 8 juta orang berkumpul hari ini di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian'. Otoritas AS tidak memberikan perkiraan jumlah massa nasional.
Polisi Lepaskan Gas Air Mata

Polisi mengeluarkan perintah pembubaran dan melakukan penangkapan beberapa jam setelah ribuan orang berkumpul untuk demonstrasi besar-besaran 'No Kings' di pusat kota Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Polisi juga sempat menggunakan gas air mata.

Dilansir NBC dan Associated Press, Minggu (29/3/2026), Departemen Kepolisian Los Angeles berada dalam Siaga Taktis pada Sabtu (28/3) malam. Polisi setempat memblokir jalan dan menangkap orang-orang yang menolak untuk bubar.

Setelah unjuk rasa dan pawai damai berakhir, kekacauan terjadi di luar Pusat Penahanan Federal. Lokasi ini merupakan tempat banyak bentrokan antara pengunjuk rasa dan agen federal terjadi sejak dimulainya penindakan imigrasi pemerintahan Trump tahun lalu.

Untuk mengantisipasi kerumunan, kru Caltrans pada Jumat (27/3) telah memasang gerbang keamanan di sepanjang jalan masuk dan keluar menuju Jalan Tol 101 di pusat kota. Selama protes 'No Kings' sebelumnya di pusat kota Los Angeles, beberapa peserta pindah ke jalur jalan tol dan memblokir lalu lintas.

Di seluruh negeri, penyelenggara 'No Kings' mengklaim hari Sabtu sebagai 'protes tanpa kekerasan satu hari terbesar dalam sejarah Amerika modern'. Mereka mengatakan setidaknya 8 juta orang berkumpul di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian dan hampir setiap benua.

Aksi protes dijadwalkan di berbagai kota di California Selatan, tetapi yang terbesar diadakan di Gloria Molina Grand Park, di seberang Balai Kota, di pusat kota Los Angeles.

Selain itu, Departemen Kepolisian Denver mengatakan di platform media sosial X bahwa mereka menyatakan demonstrasi tersebut sebagai pertemuan ilegal. Mereka melepaskan tabung asap usai sekelompok kecil demonstran memblokir jalan dan tidak bubar seperti yang diminta.

Beberapa orang kemudian melemparkan tabung asap kembali ke petugas. Setidaknya, sembilan orang ditangkap, termasuk karena mereka melempar benda-benda ke polisi.


Sumber : Okezone.com 

Posting Komentar