-->

Ads (728x90)

Spanyol-Argentina Bertalian Sejarah, tetapi Beda Bahasa Sepak Bola
Bomber Argentina, Julian Alvarez (nomor 9), usai mencetak gol ke gawang Swiss lewat tembakannya yang spektakuler (AFP / Thomas Coex)

Editor By : Ismanto

JAKARTA, Peristiwanusantara.com - Laga penentuan juara Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua tim papan atas, Spanyol dan Argentina, pada Senin (20/7/2026) dinihari. Berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, partai ini memang layak disebut sebagai final ideal. Ini lantaran kedua tim sedang menjadi penguasa sepak bola di benua masing-masing.

Rivalitas Spanyol dan Argentina memiliki akar sejarah yang sangat unik. Berbeda dengan rivalitas Inggris-Argentina yang dibakar sentimen perang, perseteruan Spanyol dan Argentina disebabkan benturan prinsip pemainan sepak bola. Perkara 'membelotnya' pemain ke masing-masing kubu pun sebenarnya tak lepas dari faktor historis dari masa kolonial.

1. Ada narasi kemerdekaan penuh dari mantan penjajah yang menjadi pengantar ke laga final

Secara historis, Spanyol adalah kekuatan kolonial yang menguasai wilayah Argentina dan banyak wilayah di Amerika Selatan selama berabad-abad. Dan akhirnya Argentina memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1816. Kendati demikian, relasi kedua negara masih terpelihara secara historis. Dilansir Door Flies Open, dalam budaya Amerika Latin, Spanyol masih sering disebut sebagai Madre Patria atau 'Negeri Induk'.

Di panggung final Piala Dunia, ada dorongan psikologis yang kuat bagi publik Argentina untuk menegaskan kemerdekaan penuh dan superioritas mereka atas mantan penguasa kolonialnya. Ini diperkuat dengan status juara bertahan. Sementara bagi Spanyol, ini adalah pembuktian bahwa mereka layak disebut sebagai penguasa baru sepak bola dunia setelah merajai tanah Eropa.

2. Meski terpisah samudra, penduduk kedua negara masih saling terhubung lewat migrasi

Nasib kemudian berbalik, membuat Argentina menjadi tujuan perantauan. Dilansir The Guardian, pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, jutaan warga Spanyol, terutama dari wilayah Galicia dan Asturias di utara Spanyol, bermigrasi ke Argentina untuk mencari kehidupan yang lebih baik akibat kemiskinan dan Perang Saudara Spanyol. Saking banyaknya, orang asing di Argentina hingga kini sering dijuluki 'Gallegos' yang berarti 'orang Galicia.'

Sebaliknya, saat Argentina mengalami krisis ekonomi hebat pada tahun 2001, giliran ratusan ribu warga Argentina yang bermigrasi ke Spanyol. Ikatan kekeluargaan lintas samudra ini membuat laga final Piala Dunia 2026 tidak hanya ditonton sebagai laga antarnegara, melainkan duel antarkerabat. Pertimbangan historis ini juga mendasari pemindahan leg kedua final Copa Libertadores 2018, yang mempertemukan dua tim rival, Boca Juniors dan River Plate, dari Buenos Aires ke Madrid.

3. Migrasi sebabkan beberapa pemain Argentina dan Spanyol memiliki kewarganegaraan ganda

Karena faktor migrasi, banyak pemain legendaris dan pilar kedua tim yang memiliki paspor ganda (Spanyol-Argentina) atau berhak membela kedua negara karena garis keturunan. Dilansir FourFourTwo, pionir daftar pemain ini adalah Alfredo Di Stefano yang lahir di Argentina tapi menjadi legenda Timnas Spanyol 1950-an. Di Stefano mendapat kewarganegaraan Spanyol setelah 3 tahun memperkuat Real Madrid.

Bahkan, Lionel Messi remaja hampir membela Timnas Spanyol sebelum akhirnya memilih setia pada tanah kelahirannya. Alejandro Garnacho dan Nico Paz lahir di Spanyol, tetapi mereka berdua memilih berseragam biru-putih. Sedangkan dari sisi La Furia Roja, terdapat Mariano Pernia, bek kiri kelahiran Argentina yang memperkuat Spanyol pada Piala Dunia 2006.

4. Menjadi ajang bentuan dua prinsip sepak bola yang saling bertolak belakang

Tensi pertandingan final ini kemungkinan akan dipicu oleh perbedaan mentalitas bertanding. Dilansir Vice, sepak bola Argentina sangat memaklumi unsur viveza criolla, sebuah istilah yang bisa diartikan sebagai kecerdikan jalanan yang cenderung licik, provokatif, dan teatrikal guna memenangi pertandingan. Salah satu buktinya terjadi pada Piala Dunia 2022. Momen paling ikonis terjadi ketika kiper Emiliano Martinez berkali-kali memprovokasi pemain lawan dalam adu penalti.

Sementara itu, budaya sepak bola Spanyol lebih mengedepankan etos bermain taktis, teratur, dan sportif. Hal tersebut membawa mereka ke podium juara Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2024. Ketika determinasi fisik dan provokasi mental para pemain Argentina berbenturan dengan gaya elegan Spanyol, duel ini dipastikan berjalan sengit.

Yang unik, kedua tim baru bertemu sebanyak 14 kali sepanjang sejarah. Rekornya pun seimbang, yakni masing-masing tim menang 6 kali sementara 2 laga lainnya berakhir imbang. Terakhir kali Spanyol dan Argentina bertemu pada laga uji coba pada 2018, di mana Spanyol menang dengan skor telak 6-1. Lalu, delapan tahun berselang, apakah La Albiceleste mampu membalas kekalahan tersebut? 


Sumber : idntimes.com 

Posting Komentar