By Robert
KARIMUN, Peristiwanusantara.com – Pemotongan Baja Perdana (First Steel Cut) dan Peletakan Lunas (Keel Laying) lambung kapal untuk modul Topside FPSO Bahtera Haluan Lestari diresmikan, pada Kamis (23/7) di fasilitas PT Saipem.
Peresmiannya dihadiri oleh Kepala SKK Migas dan Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, Wakil Gubernur (Wagub) Kepri Dr. Nyanyang Haris Pratamura, S.E., M.Si, Bupati Karimun Ing. H.Iskandarsyah, Forkopimda Karimun dan sejumlah kepala OPD Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karimun.
Dengan diresmikannya Pemotongan Baja Perdana ini, Bupati Iskandarsyah optimis roda perekonomian dan pembangunan di Kabupaten Karimun akan berputar semakin kencang.
Momen bersejarah ini merupakan bagian dari eksekusi Proyek Strategis Nasional (PSN) Kutei North Hub (KNH) Development Project yang bernilai miliaran dolar.
Kehadiran para petinggi sektor energi ini dimanfaatkan oleh Bupati Ing. H. Iskandarsyah untuk menyuarakan komitmen daerahnya, ia menegaskan masuknya mega proyek ini adalah sebuah momentum emas.
Fokus utama Pemerintah Kabupaten Karimun saat ini adalah memastikan skala investasi raksasa tersebut berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui serapan tenaga kerja lokal secara masif.
“Hari ini adalah sebuah kebanggaan bagi kita, ada tambahan proyek luar biasa besar. Kebutuhan tenaga kerjanya mencapai lebih kurang 8.000 orang. Ini adalah the big opportunity, kesempatan besar bagi Karimun untuk maju dan berkembang. Pekerjaan ini harus menjadi peluang nyata bagi anak-anak dan abang-abang kita di sini,” tegas Ing. H. Iskandarsyah.
Berdasarkan data teknis, proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari menelan investasi sebesar USD 2,9 Miliar dari total valuasi proyek Kutei North Hub yang mencapai USD 11,8 Miliar. Konsorsium pelaksana proyek raksasa ini melibatkan kolaborasi antara PT Searah (perusahaan patungan Eni dan Petronas), PT Saipem, dan PT Tripatra.
Bupati Ing. H. Iskandarsyah memaparkan bahwa pengerjaan fabrikasi ini terbagi di tiga wilayah utama Kepulauan Riau, yakni Batam, Bintan, dan Karimun. Dari total beban kerja sekitar 40.000 ton untuk wilayah Kepri, Kabupaten Karimun mendapatkan porsi terbesar.
“Sebanyak 10 ribu ton ada di Batam, 10 ribu ton di Bintan, dan 20 ribu ton ada di sini, di Karimun. Nanti ramuan terakhir (integrasi final) dipadu di Kabupaten Karimun. Secara serapan, PT Saipem telah memprioritaskan sekitar 68 hingga 75 persen untuk anak-anak lokal kita. Namun, ini tentu harus dibarengi dengan skill, kompetensi, dan sertifikasi,” paparnya.
Untuk merespons tantangan tersebut, Bupati Iskandarsyah telah mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi bersama Wakil Gubernur dan Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi. Pemerintah daerah tengah merancang skema pelatihan khusus melalui Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mempersiapkan lulusan SMA dan SMK di Karimun agar memenuhi standar kualifikasi industri minyak dan gas (migas) internasional.
Infrastruktur FPSO ini dirancang untuk beroperasi di perairan laut dalam (Ultra Deepwater) Selat Makassar dengan target onstream pada kuartal keempat tahun 2028. Nantinya, fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional dengan kapasitas produksi gas mencapai 1.000 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) dan kondensat sebesar 80.000 BCPD ( Barrels of Condensate Per Day ).
“Ini adalah bagian tak terpisahkan dari strategi ketahanan energi nasional Bapak Presiden. Ke depan, akan ada lebih banyak proyek blok migas yang berjalan, seperti Blok Masela dan lainnya. Kami telah menyampaikan harapan secara langsung kepada Dirjen Migas dan konsorsium perusahaan, agar anak-anak Karimun selalu diprioritaskan untuk bekerja di proyek-proyek vital ini,” tutup Ing. H. Iskandarsyah.
Dengan sinergi antara kesiapan infrastruktur industri di PT Saipem dan penyiapan SDM yang didorong langsung oleh kepala daerah, Kabupaten Karimun kini bersiap mengambil peran krusial sebagai lumbung tenaga kerja ahli maritim dan migas yang diperhitungkan di kancah nasional. (Angga)
Editor : Ismanto

KLIK Untuk Masuk

Posting Komentar