-->

Ads (728x90)

 

Bupati Cen Sui Lan menyampaikan sambutan saat melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Bunguran Selatan di Puskesmas Cemaga, Jumat (28/8/2026) (Foto : Putra/Peristiwanusantara.com)

By Putra Mardiyanto

NATUNA, Peristiwanusantara.com  — Di tengah terik siang Kecamatan Bunguran Selatan, Jumat (28/8/2026), warga berkumpul di Puskesmas Cemaga.

Sebagian datang untuk menerima bantuan beras. Sebagian lainnya memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis.

Dua kebutuhan dasar itu bertemu dalam satu tempat: pangan untuk hari ini dan kesehatan untuk masa depan.

Pemerintah Kabupaten Natuna menyalurkan bantuan pangan kepada 9.054 Penerima Bantuan Pangan (PBP) untuk periode Juli hingga September 2026. Setiap keluarga penerima mendapatkan 10 kilogram beras setiap bulan, atau total 30 kilogram untuk tiga bulan.

Jumlah penerima meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya 7.321 PBP.

Namun, bagi Bupati Natuna Cen Sui Lan, kenaikan angka tersebut bukan berarti masyarakat Natuna semakin banyak yang jatuh miskin, justru sebaliknya.

“Bukan masyarakat kita yang semakin susah, tetapi data kita yang semakin baik dan semakin sempurna, sehingga bantuan dapat diberikan lebih tepat sasaran,” kata Cen.

Kalimat itu menjadi penegasan bahwa di balik bantuan pangan, ada pekerjaan lain yang tak kalah penting membenahi data.

Pemerintah meminta camat dan kepala desa melakukan pendataan ulang kondisi sosial ekonomi masyarakat. Mereka yang benar-benar membutuhkan diharapkan tidak terlewat, sementara masyarakat yang sudah lebih mampu tidak lagi tercatat sebagai penerima.

Bukan untuk Dijual

Di hadapan warga,Bupati Cen Sui Lan menyampaikan pesan yang sederhana tetapi tegas.

Beras bantuan tidak boleh dijual.

Bantuan tersebut diberikan untuk memastikan kebutuhan pangan keluarga terpenuhi selama tiga bulan.

“Beras ini jangan dijual. Bantuan ini diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Pemerintah juga akan terus mengevaluasi data penerima. Status penerima dapat ditinjau kembali apabila seseorang tidak lagi memenuhi kriteria atau diketahui menyalahgunakan bantuan.

Sebab, bantuan sosial bukan sekadar tentang menyalurkan beras dari gudang hingga ke tangan warga.

Yang lebih penting adalah memastikan bantuan itu benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Ketika Sakit Belum Datang

Dari urusan pangan, perhatian pemerintah beralih ke kesehatan.

Di Bunguran Selatan, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) masih memiliki pekerjaan besar. Hingga Agustus 2026, baru 1.813 dari 3.562 sasaran yang menjalani pemeriksaan. Capaian tersebut baru mencapai 50,9 persen, sementara target hingga akhir tahun ditetapkan sebesar 80 persen.

Masih ada ribuan warga yang perlu diyakinkan bahwa memeriksakan kesehatan tidak harus menunggu tubuh memberi tanda bahaya.

“Jangan takut untuk memeriksakan diri. Dengan pemeriksaan sejak dini, kita dapat mengetahui kondisi kesehatan lebih cepat,” ujar Cen.

Pesannya jelas: lebih baik mengetahui lebih awal daripada terlambat menyadari.

Pemerintah bersama Puskesmas akan memperkuat sosialisasi, mendatangi masyarakat, serta menggandeng pemerintah desa, kader kesehatan, Posyandu dan berbagai unsur lainnya.

Anak-anak Menunjukkan Capaian Berbeda

Pada kelompok anak sekolah, capaian CKG justru sudah melampaui target umum.

Dari 732 anak sekolah yang menjadi sasaran, sebanyak 617 anak atau 84,29 persen telah menjalani pemeriksaan.

Masih tersisa 115 anak yang belum diperiksa.

Pemerintah menargetkan seluruh anak sasaran mendapatkan layanan kesehatan tersebut.

Capaian tinggi ini menunjukkan bahwa ketika sekolah, guru, orang tua, tenaga kesehatan dan kader bergerak bersama, pelayanan kesehatan bisa menjangkau anak-anak dengan lebih cepat.

Perjuangan Melawan Stunting Belum Selesai

Persoalan lain menunggu di sisi berbeda: pertumbuhan anak.

Sebanyak 163 balita telah mendapatkan intervensi gizi dari total 315 sasaran.

Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sekali datang lalu selesai.

Pertumbuhan harus dipantau. Kondisi kesehatan diperiksa. Kebutuhan gizi dipenuhi. Makanan tambahan diberikan. Orang tua juga perlu mendapatkan pemahaman yang cukup.

Karena itu, keluarga, Posyandu, pemerintah desa dan tenaga kesehatan menjadi mata rantai yang tidak boleh putus.

Sebab, masa depan anak dimulai dari apa yang mereka terima sejak sekarang.

Ketika Kemiskinan Tak Boleh Menghentikan Sekolah

Cen juga membawa satu pesan lain dari Cemaga yakni : jangan biarkan keterbatasan ekonomi memutus pendidikan anak.

Anak-anak dari keluarga kategori desil 1 dan 2 yang memenuhi persyaratan didorong untuk memanfaatkan kesempatan melalui Sekolah Rakyat.

“Kita tidak ingin lagi mendengar ada anak-anak yang putus sekolah hanya karena orang tuanya tidak mampu secara ekonomi,” kata Cen.

Anak-anak yang telah kehilangan orang tua juga diminta didata agar memperoleh kesempatan pendidikan yang sama.

Bagi pemerintah, bantuan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan hari ini.

Ada kebutuhan yang lebih panjang: memastikan anak-anak tetap memiliki masa depan.

Dua Hal yang Harus Berjalan Bersamaan

Menjelang pukul 15.00 WIB, kegiatan di Puskesmas Cemaga berakhir.

Sekitar 150 orang mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB itu.

Beras telah disalurkan. Pesan kesehatan telah disampaikan. Data penerima kembali menjadi perhatian. Anak-anak didorong tetap sekolah. Balita terus dipantau.

Di tempat sederhana itu, pemerintah sedang mencoba menjawab dua kebutuhan mendasar masyarakat sekaligus: bagaimana keluarga tetap memiliki makanan di meja dan bagaimana mereka tetap sehat untuk menjalani kehidupan.

Bantuan pangan diharapkan mengurangi beban pengeluaran keluarga. Pemeriksaan kesehatan gratis diharapkan menemukan persoalan kesehatan sebelum menjadi lebih berat.

Dan diantara keduanya, ada satu harapan yang lebih besar: kesejahteraan masyarakat Natuna.

Cen berharap berbagai program pemerintah benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa ton beras yang tersalurkan atau berapa persen warga yang telah diperiksa.

Ukuran sebenarnya adalah ketika bantuan itu terasa dalam kehidupan masyarakat—di meja makan, di ruang kelas, dan di tubuh yang lebih sehat.(Put)

Editor : Ismanto

Posting Komentar