-->

Ads (728x90)

Hj Asmarius laksanakan kegiatan sosial di Dusun Pemindangan, Desa Kekatang, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Sabtu (10/10/2026) (Foto : Iwan/Peristiwanusantara.com)

By Iwan

ACEH, Peristiwanusantara.com - Di tengah kesulitan hidup yang dihadapi sebagian masyarakat, Hj. Asmarius memilih untuk tidak berpaling. Dari membantu mewujudkan hunian yang lebih layak, memperjuangkan akses pendidikan anak, hingga menggunakan uang pribadi untuk membantu menimbun jalan rusak, ia berupaya menghadirkan harapan melalui tindakan nyata.

Bagi perempuan asal Dusun Pemindangan, Desa Kekatang, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, kepedulian bukan sekadar ungkapan manis. Baginya, melihat sesama hidup dalam keterbatasan tanpa berusaha membantu merupakan kegelisahan tersendiri. Ia berusaha mengambil bagian sesuai kemampuan, meskipun menyadari bahwa persoalan masyarakat tidak mungkin diselesaikan seorang diri.

“Kenapa ya, Bang, saya seperti diberi rasa peduli kepada orang-orang yang hidupnya memprihatinkan. Saya tidak bisa cuek, tidak bisa tutup mata. Saya takut dianggap terlalu vokal,” ungkap Hj. Asmarius kepada awak media, Sabtu (10/10/2026).

Ungkapan tersebut menggambarkan kegelisahan seorang warga yang memilih bergerak ketika melihat persoalan di sekitarnya. Bukan karena merasa mampu menyelesaikan semuanya, melainkan karena ia meyakini bahwa sekecil apa pun bantuan yang diberikan dapat berarti bagi orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Salah satu perjuangan yang dilakukannya adalah membantu warga yang membutuhkan tempat tinggal layak. Bersama sejumlah teman dan masyarakat, Hj. Asmarius berupaya mencari jalan keluar di tengah keterbatasan, termasuk persoalan ketersediaan lahan. Melalui usaha bersama tersebut, sebuah hunian sederhana akhirnya dapat diwujudkan dan kini sudah bisa ditempati.

“Saya benar-benar berjuang agar warga ini punya tempat tinggal yang layak. Walaupun sangat sederhana, alhamdulillah sekarang sudah bisa ditempati,” tuturnya.

Rumah mungkin hanya terlihat sebagai bangunan berdinding dan beratap bagi sebagian orang. Namun, bagi keluarga yang selama ini hidup dalam kondisi memprihatinkan, rumah yang layak merupakan tempat berlindung, ruang untuk beristirahat dengan aman, sekaligus bagian penting dari martabat kehidupan. Dari perjuangan sederhana itu, Hj. Asmarius berharap warga yang dibantu dapat menjalani hari-hari dengan lebih baik.

Kepeduliannya tidak berhenti pada persoalan tempat tinggal. Hj. Asmarius juga menceritakan perjuangannya membantu seorang anak berusia delapan tahun yang sebelumnya belum bersekolah karena terkendala administrasi kependudukan. Ia berupaya mencari jalan keluar agar persoalan tersebut tidak terus menjadi penghalang bagi anak itu untuk memperoleh pendidikan.

“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa sekolah dan sudah bisa baca tulis. Itulah kisah perjuangan saya untuk masyarakat. Semoga saya bisa bermanfaat untuk orang lain,” ujarnya.

Bagi Hj. Asmarius, kesempatan mengenyam pendidikan merupakan bagian penting dari masa depan seorang anak. Persoalan administrasi semestinya dicarikan solusi melalui pendampingan dan koordinasi dengan pihak terkait, agar anak-anak yang menghadapi keterbatasan tetap memperoleh kesempatan belajar sebagaimana mestinya.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Terkadang, perhatian kepada satu anak, keberanian membantu mencari solusi, dan kesediaan mendampingi prosesnya dapat menjadi langkah berarti untuk membuka pintu masa depan.

Perhatian Hj. Asmarius juga menyentuh persoalan infrastruktur yang digunakan masyarakat setiap hari. Ia mengaku membeli satu mobil material krokos menggunakan uang pribadi untuk membantu menimbun jalan rusak dan berlubang. Langkah swadaya itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap akses warga, meskipun perbaikan menyeluruh tetap membutuhkan penanganan dari pihak berwenang.

“Bukan berarti saya pamer atau riak, ya, Bang. Cuma itu bentuk kepedulian saya. Semoga saya selalu sehat dan bisa terus bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Baginya, jalan yang rusak bukan sekadar persoalan permukaan tanah yang berlubang. Kondisi tersebut dapat mengganggu perjalanan warga, memperlambat aktivitas sehari-hari, serta meningkatkan risiko keselamatan pengguna jalan. Karena itu, ia berharap persoalan infrastruktur di wilayah pedesaan mendapat perhatian serius dan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan serta kewenangan pemerintah.

Di luar aktivitas sosialnya, Hj. Asmarius juga aktif sebagai anggota organisasi kemasyarakatan GRIB Jaya PAC Kecamatan Marga Punduh. Melalui keterlibatannya di lingkungan masyarakat dan organisasi, ia turut menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian, khususnya mengenai kebutuhan dasar warga dan pemerataan pembangunan.

Ia menilai bahwa pembangunan seharusnya tidak hanya terlihat dari banyaknya program yang direncanakan, tetapi juga dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Warga yang masih hidup dalam keterbatasan, menurutnya, perlu memperoleh perhatian agar kebutuhan mendasar mereka tidak tertinggal di tengah pelaksanaan pembangunan daerah.

Sejumlah persoalan yang menjadi perhatiannya meliputi rumah tidak layak huni, jalan rusak, jembatan yang membutuhkan perbaikan, serta dermaga yang kondisinya memerlukan penanganan. Ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait bersedia turun langsung ke lapangan, melakukan pendataan, menentukan skala prioritas, serta menindaklanjuti laporan masyarakat sesuai ketentuan dan kemampuan anggaran.

Menurutnya, jalan, jembatan, dan dermaga bukan hanya bangunan fisik. Infrastruktur tersebut berkaitan dengan keselamatan, mobilitas warga, akses terhadap pelayanan publik, serta kelancaran kegiatan ekonomi. Ketika akses mengalami kerusakan, masyarakat di wilayah pedesaan berpotensi menghadapi hambatan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Hj. Asmarius menyadari bahwa menyampaikan aspirasi terkadang membuat seseorang dinilai terlalu vokal. Namun, ia berharap setiap persoalan dapat dibicarakan secara terbuka, disampaikan berdasarkan kondisi nyata, dan diarahkan pada penyelesaian. Kritik dan masukan, menurutnya, akan lebih bermakna apabila menjadi jalan untuk memperbaiki keadaan dan mendorong tanggung jawab bersama.

Kiprahnya di Dusun Pemindangan menunjukkan bahwa kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Membantu warga mendapatkan hunian yang lebih layak, memperjuangkan pendidikan seorang anak, serta mengeluarkan uang pribadi untuk membantu jalan rusak merupakan bentuk kontribusi yang ia lakukan sesuai kemampuannya. Meski demikian, keberlanjutan bantuan sosial dan pembangunan tetap memerlukan kerja sama masyarakat, pemerintah, serta berbagai pihak terkait.

Pada akhirnya, ukuran kepedulian bukan semata-mata besarnya bantuan, melainkan kesediaan untuk hadir ketika sesama membutuhkan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu orang, tetapi tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan dapat menjadi awal tumbuhnya gotong royong dan perhatian yang lebih luas.

Hj. Asmarius berharap semakin banyak pihak tergerak melihat kondisi masyarakat di sekitarnya, terutama warga yang membutuhkan rumah layak, anak-anak yang menghadapi hambatan pendidikan, serta masyarakat yang masih bergantung pada infrastruktur yang aman. Baginya, kebutuhan tersebut bukan sekadar permintaan, melainkan bagian dari harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Semoga saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Amin,” tutupnya. (Iwan)

Editor : Ismanto


Posting Komentar