Kondisi Mustaniroh (61) warga Dusun Pemindangan, Desa Kekatang, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Sabtu (10/10) (Foto : Iwan/Peristiwanusantara.com)
By Iwan
ACEH, Peristiwanusantara.com - Di balik dinding kusam yang mengelupas, tiang penyangga yang tampak rapuh, serta atap tua yang sebagian strukturnya terlihat memprihatinkan.
Mustaniroh (61), warga Dusun Pemindangan, Desa Kekatang, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, Lampung, menjalani hari-hari dalam keterbatasan. Rumah yang semestinya menjadi tempat berlindung itu kini menyisakan potret kehidupan yang mengetuk nurani.
Kondisi kediaman Mustaniroh memperlihatkan persoalan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagian atapnya tampak menua, sejumlah kayu penyangga terlihat lapuk, sementara dinding bangunan dipenuhi noda dan kerusakan.
Keadaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keamanan dan kelayakan hunian yang ditempatinya.
Di tengah kondisi bangunan yang memprihatinkan, perempuan berusia 61 tahun itu menjalani kehidupan seorang diri setelah suaminya meninggal dunia. Kesendirian tersebut menjadi bagian dari kisah kemanusiaan yang patut mendapat perhatian, terlebih ketika kondisi tempat tinggalnya membutuhkan peninjauan lebih lanjut.
Kondisi rumah itu menjadi perhatian setelah ditelusuri anggota organisasi kemasyarakatan GRIB Jaya PAC Marga Punduh. Temuan lapangan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak terkait untuk melihat secara langsung keadaan Mustaniroh, sekaligus menilai kebutuhan bantuan yang benar-benar diperlukan.
Rumah bukan sekadar bangunan dengan dinding, tiang, dan atap. Di sanalah seseorang mencari perlindungan dari panas dan hujan, melepas lelah, serta menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, ketika bagian-bagian bangunan mulai menunjukkan kerusakan, rasa aman penghuni patut menjadi perhatian utama.
Keadaan yang terlihat pada kediaman Mustaniroh menjadi pengingat bahwa persoalan rumah tidak layak huni bukan semata urusan fisik bangunan. Di dalamnya terdapat kebutuhan dasar manusia untuk tinggal dengan aman, bermartabat, dan memperoleh kesempatan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Pemerintah desa, pemerintah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Pesawaran, serta lembaga sosial diharapkan dapat meninjau langsung kondisi tersebut. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tingkat kerusakan bangunan, mengetahui keadaan sosial ekonomi Mustaniroh, dan menentukan kemungkinan bantuan berdasarkan ketentuan program yang berlaku.
Langkah penanganan dapat dimulai melalui pendataan, pemeriksaan kelayakan rumah, serta penelusuran akses terhadap program bantuan perbaikan atau pembangunan rumah layak huni. Dengan mekanisme yang tepat, kepedulian dapat diwujudkan menjadi langkah konkret yang sesuai kebutuhan dan ketentuan.
Kepedulian terhadap Mustaniroh tidak seharusnya berhenti pada rasa iba ketika melihat kondisi rumahnya. Semangat gotong royong perlu diterjemahkan melalui tindakan nyata, baik berupa peninjauan, pendampingan administrasi, maupun dukungan sosial yang memungkinkan dirinya memperoleh perhatian secara berkelanjutan.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi mengenai tindak lanjut pemerintah desa maupun instansi terkait atas kondisi kediaman Mustaniroh. Konfirmasi lebih lanjut diperlukan agar informasi mengenai upaya penanganan dapat disampaikan secara berimbang dan masyarakat memperoleh kejelasan mengenai langkah yang akan ditempuh.
Kisah Mustaniroh menjadi pengingat bahwa kesejahteraan seharusnya hadir hingga ke rumah-rumah warga yang luput dari perhatian. Di balik bangunan tua dan dinding yang mengelupas, ada kehidupan yang membutuhkan rasa aman. Kini, kepedulian nyata diharapkan membuka jalan menuju hunian yang lebih layak. (Iwan)
Editor : Ismanto

KLIK Untuk Masuk

Posting Komentar